Categories

IPB Badge

IPB Badge

IPB Badge

Nama : Theresia Puspita Arumsari
NRP : C34100080
Laskar : 10

Cerita inspirasi
Romo van lith adalah seorang micionaris dari Belanda. Ia ditunjk oleh konggregasi kepastoran untuk melayani dan mengabdikan tugas pelayanannya di pulau Jawa tepatnya di provinsi Jawa Tengah.
Tugas pelayanannya sangat berat karena sekitar tahun 1900 merupakan masa – masa yang sulit untuk penduduk Indonesia, karena mereka harus mengalami peperangan dan di perbudak oleh bangsa Belanda. Maka dari itu akan sulit baginya untuk masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia (dibaca Jawa Tengah) .
Di desa kecil Semampir ia mendirikan sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja. Saat itulah ia memulai kompleks persekolahan Katolik di Muntilan, mulai dari Normaalschool di tahun1900, sekolah guru berbahasa Belanda atau Kweekschool tahun 1904dan kemudian pendidikan guru-guru kepala pada tahun 1906. Sekolah guru untuk penduduk pribumi Jawa ini bisa dimasuki oleh anak Jawa dari mana pun, dari agama apa pun. Awalnya memiliki murid 107 orang, 32 di antaranya bukan Katolik.
Di tahun 1911 dibuka secara resmi seminari (sekolah calon pastor) pertama di Indonesia karena sebagian di antara lulusannya ingin jadi pastor. Satu di antaranya Mgr. A. Soegijapranata SJ (1896- 1963), yang kemudian menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang, uskup pertama pribumi.
Gereja kecil dan sekolah desa Semampir kemudian berkembang menjadi satu kompleks gedung-gedung yang di tahun 1911 dinamai Kolese Franciscus Xaverius. Tahun 1948, kompleks sekolah ini dibakar.
Lewat pendidikan sekolah di Muntilan menghasilkan tokoh politik Katolik seperti Kasimo, Frans Seda, dan sejumlah tokoh lain.
Di Klaten Van Lith berusaha mendirikan HIS. Mula-mula pengajuan ijin pendirian sekolah HIS di Klaten ditolak oleh Asisten Residen dengan alasan di Klaten telah berdiri HIS Protestan. Karena penolakan itu maka Pastur Van Lith mengajukan permohonan langsung kepada Residen di Surakarta. Permohonannya dikabulkan, sehingga pada tahun 1920 HIS Kanisius Klaten didirikan dan kegiatan pembelajaran dilaksanakan di rumah penduduk.
Van Lith memperjuangkan pendidikan bagi para pribumi. Ia mengusahakan pengiriman mahasiswa-mahasiswa pribumi ke perguruan tinggi di Belanda dan menganjurkan Yesuit agar mendirikan kolese-kolese untuk pendidikan setara AMS.( http://bethlehemvanjava.multiply.com/journal/item/6)
Perjuangannya yang keras dan tanpa kenal lelah,ia berhasil membuat pribumi untuk bersekolah dan menempuh pendidkan yang layak. Ia rela pergi jauh dari negaranya untuk mengabdikan diri di masyarakat yang sangat asing baginya tanpa membeda – bedakan apapun. Ia mengorbankan kehidupannya demi memajukan sebuah masyarakat dan bangsa lain. Sikap dan sifatnya itu membuat saya menjadi tergugah untuk lebih maju dan semangat dalam mencapai segala cita – cita saya.

Nama : Theresia Puspita Arumsari
NRP : C34100080
Laskar : 10

Cerita inspirasi
Kelas XI SMA merupakan saat yang menegangkan dan menyenangkan. Kami merasakan saat – saat dimana satu angkatan akan mengalami kedekatan dan dimana kami menjalani masa – masa SMA yang sesungguhnya.
Kebiasaan di sekolah saya ketika sudah menginjak kelas XI SMA, angkatan akan mengadakan BAKSOS(Bakti Sosial). Ketika itu, angkatan saya memilih untuk bakti sosial di daerah gunung Kidul Yogyakarta. Di sana kami membantu masyarakatnya untuk membangun tempat penampungan air.
Sebelumnya, kehidupan masyarakat di sana sangat kesulitan karena sedikitnya air yang mereka miliki ketika musim kemarau tiba. Sebagian besar dari mereka belum memiliki pompa air untuk mengambil air. Maka dari itu,angkatan saya ingin membantu masyarakat di situ untuk membangun tempat penampungan air.
Setelah beberapa lama kami mengumpulkan dana untuk membantu masyarakat gunung Kidul,akhirnya dana untuk BAKSOS terkumpul. Kami pun berangkat ke gunung Kidul.
Dalam pelaksanaan kegiatan kita ini, kami harus menginap di tempat tersebut selama seminggu karena memang proses pembangunan yang rumit dan butuh waktu yang lama.
Di sana kami tinggal di tempat warga sekitar daerah tersebut. Warga disitu sangat ramah dan baik hati. Mereka mau menerima kami dengan baik. Kami pun semakin semangat dalam menjalankan BAKSOS kali ini.
Ketika kami memulai BAKSOS kami, tak menyangka ternyata yang harus dilakukan ialah mencangkul, mengangkut tanah dan batu. Tetapi itu semua kami lalui dengan senang hati dan tanpa paksaan. Warga pun juga semakin bersemangat untuk membangun temapt penampungan air.
Kami saling membantu dan juga gotong royong dalam pembangunan penampungan air. Disana pun kami juga mengikuti kehidupan dan kegiatan wargga sekitar. Kami juga membantu mereka mengambil air di tempat yang jauh untuk minum. Kami pun juga mandi di tempat pemandian umum yang tidak memiliki atap dan hanya di tutup dengan tembok.
Memang sangat sederhana, tapi itulah tujuan kami datang ke sini untuk membantu dan tinggal bersama warga daerah gunung Kidul. Dengan hati senang dan bersemangat, kami akhirnya sudah melewati waktu 7 hari dengan cepat.
Walaupun tempat penampungan air yang dibuat belum selesai, tetapi dengan bantuan kami ada disitu, pekerjaan warga sekitar menjadi lebih ringan dalam melanjutkan pembangunan tempat penampungan air.
Sedih memang harus meninggalkan warga daerah gunung Kidul, tetapi kami harus terus melanjutkan kehidupan kami. Pengalaman kami yang telah kami lalui ini tak kan pernah kami lupakan karena sangat menginspirasi kami dalam membantu sesama tanpa memandang perbedaan diantara kami semua. Tak ada yang dapat menghalangi niatan kami kalau itu semua dijalankan dengan ikhlas hati dan juga gembira.
Terima kasih teman angkatan XVI terima kasih warga daerah gunung Kidul. Kebersamaan kita merupakan inspirasi kehidupan bagiku dan bagi kita semua.